07 Januari 2014

Bila Pastur Terpaksa Buka Rahasia

Bismillahirrahmanirrahim.
Artikel ini agak panjang, tapi banyak pengetahuan dan manfaat untuk kita, insya Allah...


Bila Pastur Terpaksa Buka Rahasia

Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar,dia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SW memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula dia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pastur masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, sang pastur agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini." Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Pastur tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pastur itu berkata, "Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang pastur, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang Muslim?" Pastur itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu. "Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, pastur ini ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda Muslim itu pun menerima tentangan debat tersebut.

Pastur berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat. " Si pemuda tersenyum dan berkata,"Silahkan!"

Sang pastur pun mulai bertanya, "Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya.""Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!" "Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?""Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca "Bismillah.. ." dia berkata,

- Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
- Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. 
Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."(Al-Isra': 12).
- Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
- Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur'an.
- Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.
- Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
- Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. 
Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
- Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. 
Allah SWT berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
- Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.
- Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. 
Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
- Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .
- Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
- Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
- Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh.
Allah SWT berfirman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).
- Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
- Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara NabiYusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami,sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, "Tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:98)
- Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).
- Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.
- Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. 
Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69). 
- Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua). 
- Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya Wanita, sebagaimana firman Allah SWT "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
- Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Pastur dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pastur itu agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pastur.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci syurga itu?"Mendengar pertanyaan itu lidah sang pastur menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia mencoba mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!

"Pastur tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawabannya, namun aku takut kalian marah."

Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "

Akhirnya Pastur pun berkata, "Jawabannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah, WaAsyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. "

Lantas pastur dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertaqwa.



Wallahua'lam.

dikutip dari cikadak...

19 November 2013

YANG MUDA YANG BERDAKWAH


Jangan pernah ada kata cukup untuk ilmu.
Penat dan berat yang dialami adalah bagian dari kemuliaan menuntut ilmu

Tahun 1989 adalah tahun yang sangat berat dirasakan Habib Alwi Al-Habsy. Ayah, yang baru dikenalnya selama Sembilan tahun, meninggalkan dia dan empat orang saudara untuk selama-lamanya. Umminya, syarifah Qamar binti Abdul Qadir Al-Habsy, kemudian membesarkan Habib Alwi kecil dan saudara-saudaranya.Setahun setelah wafatnya sang abah, ia dan kakak sulung, Habib Abu Bakar, dengan seizing anggota keluarga, pergi ke Lawang, Malang, Jawa Timur, demi menuntut ilmu. Hingar binger Kebayoran Lama, Jakarta, tempat mereka dilahirkan, seolah tidak dihiraukan lagi. Padahal, anak seusianya lebih memilih tinggal bersama keluarga di kota yang nyaman dan lengkap dengan berbagai fasilitas.Di Lawang, Alwi kecil tentunya harus berjauhan dari orang-orang yang dicintainya, dan itu sangat menguji kesabarannya. Tahun demi tahun dilalui Alwi kecil hingga dikemudian hari ia memetik buah ketabahan dan kesabran itu, yakni cucuran rahmat Allah Ta’ala yang amat disyukurinya dalam kehidupannya sekarang.Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsy telah mengecap buah kesabarannya menghadapi pahit getirnya menimba ilmu di waktu kecil dulu. Senada dengan kisah hidupnya, dalam diwan-nya, imam Syafi’I rahimahullah berkata, “Man lam yadzuq murrat ta’allumi sa’atan, tajarra’a dzullal jahli thula hayathi (Siapa yang tidak merasakan sekejap pahitnya menuntut ilmu, akan meneguk hinanya keebodohan sepanjang hidupnya).”Kini ia bukan saja dikenal sebagai dai muda yang andal, tapi juga Pembina dan pengajar 36 majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jabodetabek. Majlis ta’lim yang diasuh di kediamannya pun telah menjadi magnet tersendiri bagi para muhibbin. Saban malam Kamis tidak kurang dari enam ratus kawula muda meluberi majlisnya. Sedangkan Ahad subuh, lebih dari empat ratus asatidz menghadiri paengajian yang diasuhnya.Bila tiba masa peringatan Maulid, Majlis Maulid yang diselenggarakkannya dihadiri puluhan ribu orang yang memenuhi jalan-jalan perkampungan kecil di kawasan Srengseng Kembangan, Jakarta Barat.Ghirah Ilmu dan Cinta GuruPengembaraan dua kakak-beradik itu terhenti di Pesantren Darun Nasyi’in di bawah asuhan Habib Muhammad bin Husein Ba’bud, Lawang Malang. Ustadz Muhammad, demikian ia disapa oleh para santri, sangat menyayangi Alwi, terlebih setelah diketahui bahwa Alwi telah ditinggalkanayah. Setiap malam, Alwi kecil menemani sang murrabi (pendidik) mengasuh pengajian hingga waktunya melepas lelah di pembaringan. Habib Muhammad, Allah yarhamuh, mendidik dan mengasuhnya seperti anaknya sendiri, padahal Habib Muhammad saat itu sudah sepuh.Sayangnya, kehangatan yang diperoleh Alwi kecil terasa hanya sebentar. Pada tahun 1993, Habib Muhammad menemui Sang Khaliq. Putra Hbaib Muhammad, Habib ali bin Muhammad Ba’bud, menggantikan sang ayah mengasuh pesantren yang memiliki ribuan santri itu. Kasih sayang yang ditunjukkan keluarga Ba’bud tidak pernah luntur. Sosok Habib Ali, yang dikenal sebagai pendidik yang brilian, memberi kesan tersendiri baginya dan turut membentuk karakternya.Namun, sekalipun sudah dianggapseperti anak, Alwi kecil tetap harus menjalani tempaan belajar sebagai santri Darun Nasyi’in. kasih sayang, ketegasan, dan kemandirian hidup membentuk karakternya hingga kini.Delapan tahun Habib Alwi menghabiskan masa kecil dan remajanya di Pesantren Lawang. Selepas itu, ia kembali ke Jakarta. Ia sempat bekerja di Jakarta dan Semarang untuk memenuhi kebutuhan hidup serta membantu membiayai adik-adiknya, meringankan beban ibunya. Tapi ghirahnya pada ilmu tetap membara. Timbul keinginan yang besar untuk melanjutkan mengaji kepada Habib Zein bin Sumaith di kota Nabi, Madinah. Namun keinginan itu belum dapat ia wujudkan, terutama karena kondisi keuangan.Pada tahun 1999, sembari mengaji kepada Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan di Al-Fakhriyyah, Ciledug, Tangerang, Banten, ia mencari informasi dan jalan untuk belajar ke Darul Musthafa, Hadramaut. Setahun kemudian, berkat bantuan saudara ayahnya yang dikenal sebagai pengusaha property yang sukses dan dermawan, Habib Ismeth bin Abdullah Al-Habsyi, ia berangkat menuju Hadramaut, Yaman.Habib Alwi adalah santri angkatan kedua asal Indonesia yang mengenyam pendidikan di Pesantren yang diasuh Guru Mulia Al-Hafizh Al-Musnid Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.Mulanya, lamanya waktu belajar di Darul Musthafa adalah dua tahun, ketika menginjak tahun ketiga, Habib Alwi menulis surat permohonan kepada Habib Umar agar diberi kesempatan setahun lagi untuk mengenyam pendidikan dikelas takhashush yang disebut daurah. Permintaan itu dikabulkan Habib Umar bin Hafidz.Selama tiga tahun menimba ilmu di Hadramaut, ia juga berkesempatan mengaji kepada Habib Hasan Asy-Syathiri di Rubath Tarim, yang biasanya diadakan pada masa-masa liburan. Pada kesempatan di musim haji, ia, bersama beberapa santri dan Tuan Guru Nulia, berkesempatan mengunjungi kediaman Abuya Imamul Muhadditsin Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani di Rushaifah, Makkah. Baginya, kesempatan-kesempatan itu member kenangan yang tiada ternilai dalam kehidupannyahingga kini.Getir Manisnya BerdakwahPada tahun 2003, Habib Alwi Al-Habsyi menginjakkan kaki kembali di tanah air. Walau ia jebolan Darul Musthafa, bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan akses dalam mengajar dan berdakwah. Ia hijarh ke Depok, Bogor, Jawa Barat, untuk berdakwah. Tak jarang ia mengalami pahit getirnya berdakwah.Pernah ketika ia akan memberikan ta’lim, masjid yang akan didatanginya dikunci pagarnya. Bahkan ia pernah diusir saat sedang mengajar. Namun ujian demi ujian yang dihadapinya tidak membuat giyah dan melunturkan semangat berdakwah. Ia selalu teringat pesan sang guru, Habib Umar Bin Hafidz, tentang penggemblengan jiwa. Habib Umar mengajarkan tiga hal yang tidak boleh terlepas dari seorang alumnus Darul Musthafa; tahqiqul ‘ilm (mewujudkan ilmu dengan mengamalkannya), suluk (keluhuran pekerti dengan menjalani thariqah Ba’alawi), dan iblaghul haq (menyampaikan kebenaran kepada siapa saja).Peran sang pendamping hidup, Syarifah Nur Fitriyah Al-Habsyi, pun sangat besar. Laksana Syarifah Khadijah binti Khuwailid, yang selalu menyokong dakwah sang suami, makhluk yang mulia, Rasulullah SAW, Syarifah Nur pun senantiasa memberikan perhatian pada tugas mulia yang diemban Habib Alwi.Sejak empat tahun terakhir ini, Habib Alwi beserta istri dan dua buah hatinya yang masih kecil dan sedang lucu-lucunya, Habib Muhammad Nuh Al-Habsyi dan Habib Ali Al-Habsyi, berhijrah kesebuah perkampungan Betawi yang asri, JAlan Mawar, srengseng Kembangan, Jakarta barat. Di kampung ini, penerimaan masyarakat terhadap dirinya dan keluarga sungguh luar biasa. Majelis yang dibinanya kian hari kian banyak dihadiri jama’ah sekitar kediamannya. Bahkan kini jama’ahnya berdatangan dari berbagai penjuru di pinggiran Jakarta Barat dan Tangerang. Rumahnya pun tiap hari disambangi jama’ah, baik yang ingin berkonsultasi, mengaji, maupun bersilaturahim.Setiap malam Kamis, majelisnya dihadiri ratusan kaum muda. Ia mengisi pengajian dengan pembacaan Ratib Al-Haddad dan kajian kitab Riyadhush Shalihin. Sedangkan pada setiap Ahad pagi ba’da subuh, ia mengawali ta’lim dengan pembacaan Wirdul Lathif, dilanjutkan dengan mengajar kitabRisalatul Mu’awanah dan Risalatul Mudzakarah, yang diikuti lebih dari empat ratus asatidz.Selama empat tahun Majelis Ta’lim Raudhatul Habib SAW, yang diasuhnya. Telah dikhatamkan dan diijazahkan empat buah kitab, diantaranya Kitab Adab suluk al-Murid dan Kitab Bidayatul Hidayah. Kini majelisnya tengah melebarkan sayap dengan membangun sebuah bangunan permanen seluas 150 meter persegi di Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di lahan yang diwakafkan seorang dermawan itu, rencanya Majelis Ta’lim raudhatul Habib SAW akan memusatkan semua kegiatan dakwahnya, termasuk pembinaan 36 majelis yang diasuh Habib Alwi di seantero Jabodetabek.Mudawamah MengajiKeluarganya adalah orang-orang yang cukup disegani di kalangan Alawiyyin. Buyutnya, Habib Abu Bakar bin Muhammad Al-Habsyi, adalah salah satu tokoh pendiri Jamiat Kheir dan Rabithah Alawiyah.Sekalipun ia memiliki datuk-datuk yang dihormati karena ilmu dan kedermawanan mereka, tidak serta merta itu membuat Habib Alwi bersikap sombong. Begitu pun dengan dirinya, yang telah mengajar dibanyak majelisdan membina majelis yang cukup disegani, tidak membuat Habib Alwi besar kepala dengan ilmu dan ketenaran. Ia sangat memegang erat tuntunan Thariqah Ba’alawi, yang mengajarkan qana’ah (kesederhanaan) dan khumul (tidak mencari popularitas).Hingga kini, bersama lima rekan dekatnya yang sama-sama dikenalsebagai dai dan guru, secara mudawamah (berkesinambungan) mengaji kepada Habib Abdullah al-Kaf Cipulir dan Habib Umar bin Abdullah Alatas. Dengan Habib Abdullah, ia mempelajari thariqah Alawiyah; sedangkan dengan Habib Umar, ia mengaji Sembilan kitab yang berlangsung dari pagi hingga menjelang ashar, sepekan sekali.Mengaji dan mengajar ibarat air yang dituang ke dalam gelas. Bilamana gelas penuh dengan air, perlu dituang ke gelas lainnya. Ilmu pun bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan instan. Ilmu juga harus melalui jalur yang jelas dan tasalsul (bersambung). Itulah yang diajarkan agama, “Al-Isnad minad din laulal isnad laqala ma qala (mata rantai ilmu itu bagian dari ajaran agama. Jika tanpa mata rantai seseorang semaunya mengatakan apa yang dapat dikatakannya)”.Habib Abdullah Al-Kaf-lah yang banyak menyokong secara moril. Majelis Raudhatul Habib SAW dinamai oleh Habib Abdullah Al-Kaf. Dipilihnya rumah yang asri yang kini didiaminya di Srengseng juga atas petunjuk gurunya tersebut.Tentang Habib Umar Alatas, ia menyatakan kekagumannya atas semangat sang guru yang tak pernah padam sekalipun telah sangat sepuh. Ia tidak merasa penat, sekalipun dengan telaten membaca Sembilan kitab dan menjelaskannya kepada murid-muridnya sejak pukul Sembilan pagi hingga matahari akan tenggelam!Cinta Ibu dan Kasih GuruDalam wawancaranya dengan alKisah di penghujung Ramadhan 1430 H, ketika mengutarakan kecintaan orang-orang yang dicintainya, buliran air mata membasahi wajah tampannya. Habib Alwi teringat akan guru-gurunya, di antaranya Habib Muhammad Ba’bud lawang, Habib Umar Bin Hafidz, dan Ibu, yang melahirkan dan membesarkannya. Tentang sang ibu, ia teringat kepada Habib Abu Bakar Assegaf Gresik shahibul karamah (yang memiliki karamah).Alkisah, kapanpun ibunya dating, Habib Abu Bakar senantiasa bangun, berdiri, dan menghampiri sang ibu, lalu ia kecup kedua tangan ibunya, sekalipun di hadapannya ada ribuan manusia yang tengah menyimak ta’limnya. Ia baru melanjutkan pengajiannya kembali ketika ibunya telah selesai dengan keperluannya dengan dirinya. “Itulah sesungguhnya salah satu ajaran utama di kalangan ahlul bayt dzurriyyah rasulullah SAW, sikap terhadap guru dan orang tua, yang membesarkan kita”, kata Habib Alwi.Habib alwi menyitir ucapan Imam Ja’far Ash-Shidiq, salah satu dzurriyyah Rasulullah SAW. Ada empat “perintah” bagi dzurriyyyah Nabi SAW yang“tidak boleh ditentang”. Pertama, qiyamuhu min majlisihi li abihi (bangun dari majelis ketika orang tuanya dating), sebagaimana yang dilakukan Habib Abu Bakar Gresik tadi. Kedua, khidmatuhu li dhaifih (melayani tamu yang bertandang ke kediamannya). Ketiga, qiyamuhu ‘ala dabbatihi (mandiri tidak tergantung kepada orang lain). Yang keempat, khidmatuhu liman yata’allamu minhu (melayani orang yang ingin belajar kepadanya).Usia boleh muda, tetapi ilmu dan akhlaqlah yang membuat seseorang dituakan di tengah masyarakat dan umat. Habib Alwi termasuk dalam criteria tersebut. Ia dituakan dan menjadi tokoh ulama muda di tengah-tengah lingkungan tempat tinggalnya. Dalam sebuah syair dikatakan. “Al-‘Alimu kabirun walaw kana shaghiran wal jahilu shaghirun walaw kana syaikhan (Orang alim itu besar sekalipu ia masih muda, sebaliknya orang jahil itu kecil sekalipun ia berusia tua)”.Hal lain, ditambahkannya, tentang keberadaan majelis-majelis ta’lim dan dzikir. Majelis-majelis ini sangat dibutuhkan masyarakat, ketika banyak orang terperosok dalam dunia materialism, sekularisme, dan isme-isme yang jauh dari ruh Islam, yang diajarkan Nabi SAW dan para salafush shalih.


dikutip dari Majalah alKisah 21/19 Okt-1 Nov 2009

18 November 2013

Empati

Ketika melihat sahabat kita berbahagia, patutlah kita sebagai teman yang paling dekat dengannya turut merasakan bahagianya. Ketika sahabat bersedih, sepantasnya kita sebagai kerabatnya ikut menanggung perih. Tapi, ketika rasa empati yang seharusnya ada malah terjadi sebaliknya, bagaimana? Bagaimana kita menghapus rasa iri hati kepada orang lain ketika orang itu mendapat kesuksesan, padahal dalam hati tak ingin memiliki penyakit hati, tapi perasaan buruk itu selalu saja muncul?

"Setiap anak Adam tidak luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat." (HR Tirmidzi).

Aku tak akan membicarakan tentang indahnya memaafkan saat ini, tapi aku sekedar mencoba sedikit mengkaji tentang hadist tersebut dari sudut pandangku terkait kasus seorang teman tadi. Kawan, tak ada satu manusia pun yang sempurna di dunia ini. Jadi jangan pernah mengharapkan bahwa aku, engkau, atau siapa pun akan bersikap dan berkata selalu benar. Setiap harinya, di setiap jam, menit, bahkan detik, bisa jadi kita melakukan kesalahan, baik disadari maupun tidak. Berikut juga tentang rasamu. Melihat orang lain, apalagi saudara kita, ketika mendapatkan keberhasilan di atas kegagalan kita, tak dipungkiri ada sedikit/banyak rasa iri. Rasa iri pastilah ada. Wajar sebagai manusia. Tapi, apakah rasa iri harus terus-menerus kita biarkan dalam hati? Tidak. Mungkin awalnya berat menerima, tapi sekali lagi, berpikir positiflah. Mungkin kegagalan ini memang karena usaha kita yang belum memadai. Aku takkan mengatakan kegagalan adalah awal kesuksesan. Setiap kegagalan yang kita dapatkan, biarkan menjadi pelajaran saja, dan berpikir untuk memperbaikinya di masa mendatang. Sebagai manusia, kita hanya boleh iri dalam dua hal, yaitu pertama iri dalam hal ilmu yang bermanfaat dan kedua iri dalam hal harta yang dikeluarkan di jalan ALLAH. Istighfar. Kata-kata lazim yang seharusnya kita kretek setiap waktu dalam hati. Seberapa banyak kali kita menyebutnya tak berarti. Biarkan tak berbatas. Astaghfirullahal’adzim… lebih aman mengucapkannya berkali-kali. Mungkin ini salah satu cara menenangkan diri. Memang tak semua orang bisa melakukannya, tapi tak ada salahnya mencoba mendekatkan diri pada ALLAH dengan cara berucap dzikir-dzikir sederhana seperti ini.

Ketika seorang kerabat dalam keadaan futur sehingga diri menjadi kesal karenanya, apa yang harus kita lakukan untuk menghapusnya? Seperti pertanyaan sebelumnya hanya berbeda kondisi. Kehidupan manusia itu seperti roda yang selalu berotasi. Ada saatnya manusia berada di atas, dan ada saatnya manusia berada di bawah. Ada saatnya keimanan seseorang berada di puncaknya, ada saatnya di mana keimanannya melemah. Entah karena suatu hal. Mungkin saat ini dia sedang memiliki masalah, atau bisa jadi terpengaruh oleh lingkungan sehingga membuat perilakunya berubah. Intinya, tidak ada salahnya mencoba berbasa-basi, menanyakan masalah yang sedang dihadapi saat ini, atau jika tidak, biarkan dia dengan sikapnya saat ini hingga akhirnya kembali seperti sebelumnya. Tak ada yang mampu mengartikan isi hati manusia. Kadang lisan mengatakan baik-baik saja, belum tentu hati dalam keadaan baik. Biarkan dia tenang dengan pikirannya. Jika hati sudah terlanjur kesal dengan sikap futurnya, alangkah lebih baik jika kita menghindari pertemuan untuk sementara waktu. Jangan sampai suasana hati yang tidak baik menjadikan sikap kita menjadi tidak baik dan akhirnya menimbulkan permusuhan.

Lalu, tentang hasil belajar yang kadang tak lebih memuaskan daripada mereka yang hanya berusaha sekedarnya? Salahkah perasaan kesal terhadap mereka? Kawan, bukankah belajar juga merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada ALLAH? Bukankah kita belajar juga untuk mendapatkan ridho-Nya? Atau, apakah belajar kita semata-mata hanya untuk mengejar nilai yang takkan ada habisnya menjadi persoalan? Atau, bisa jadi, tanpa kita tau, mereka lebih keras berjuang daripada kita? Secara pribadi, saat ini, sebagai seorang penuntut ilmu, mungkin nilai adalah tujuan utama. Tapi, entah bagaimana caranya, aku berusaha untuk berpikir positif. Sekali lagi berpikir positiflah. Mungkin tak sekarang, tapi aku yakini bahwa apa yang telah kita tanam pasti akan kita panen hasilnya. Mungkin tak sekarang, mungkin besok, lusa, minggu depan, tahun depan, atau mungkin di akhirat nanti, entah kapan. Seberapa besar perjuangan kita, biarkan ALLAH saja yang menilai. Mungkin ini terlalu naïf. Tapi apa yang bisa kita perbuat dengan kenyataan seperti itu. Kita tak mungkin hanya kesal, pesimis, dan terdorong untuk berbuat curang seperti mereka, kan? Yang bisa kita lakukan hanya mencoba melakukan yang terbaik. Just Do It.

Jangan pernah menyerah dengan apa yang sudah kita alami selama ini, Kawan…

Hidupmu indah bila kau tau jalan mana yang benar… Harapan ada jika kau percaya…

Allahu'alam bish showab...

23 September 2012

Memahami Konsep Sifat Dua Puluh

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.
Para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam menetapkan konsep sifat 20 tersebut sebenarnya berangkat dari kajian dan penelitian yang mendalam. Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan oleh para ulama tentang latar belakang konsep wajibnya mengetahui sifat 20 yang wajib bagi Allah, antara lain:
Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah SWT wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini pula bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain. Demikian ini adalah keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman.
Kedua, para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja sebagaimana dikatakan al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi:
وَقَوْلُهُ: « إِنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا » لاَ يَنْفِيْ غَيْرَهَا ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ أَسْماَءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Sabda Nabi Saw: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya. Nabi Saw hanya bermaksud –wallahu a’lam-, bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga. (al-Baihaqi, al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf, hal. 14). Pernyataan al-Hafizh al-Baihaqi di atas bahwa nama-nama Allah SWT sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah 99 didasarkan pada hadits shahih:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ … أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاَءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

Ibn Mas’ud berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu… Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim).
Ketiga, para ulama membagi sifat-sifat khabariyyah, yaitu sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits seperti yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna, terbagi menjadi dua. Pertama, Shifat al-Dzat, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah SWT, yang antara lain adalah sifat dua puluh. Dan kedua, Shifat al-Af’al, yaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah SWT, seperti sifat al-Razzaq, al-Mu’thi, al-Mani’, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliq dan lain-lain. Perbedaan antara keduanya, Shifat al-Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah, yaitu syarat mutlak ketuhanan Allah, sehingga ketika Shifat al-Dzat itu wajib bagi Allah, maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Allah. Sebagai contoh, misalhnya ketika Allah SWT bersifat baqa’ (kekal), maka Allah SWT mustahil bersifat kebalikannya, yaitu fana’.
Dari sini para ulama menetapkan bahwa Shifat al-Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah. Hal tersebut berbeda dengan Shifat al-Af’al. Ketika Allah memiliki salah satu di antara Shifat al-Af’al, maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Allah, seperti sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan), al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan kebalikannya al-Nafi’ (Maha Memberi Manfaat), al-Mu’thi (Maha Pemberi) dan kebalikannya al-Mani’ (Maha Pencegah) dan lain-lain. Di samping itu para ulama juga mengatakan bahwa Shifat al-Af’al itu baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah, namun tidak azal (ada permulaan).
Dari sini dapat kita memahami, kekeliruan pernyataan Nurcholis Madjid beberapa tahun yang lalu, bahwa untuk saat ini sifat Rahmah Allah mestinya lebih layak ditekankan untuk diketahui dari pada yang lain. Karena pernyataan ini berangkat dari ketidakpahaman Nurcholis terhadap konsep Shifat al-Dzat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah (syarat ketuhanan) dan Shifat al-Af’al yang bukan Syarth al-Uluhiyyah.
Keempat, dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada, sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar Shifat al-Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan dalil ‘aqli.
Kelima, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah SWT. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah. Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri).
Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain. Wallahu a’lam.
Sumber. Buletin ASWAJA 2010

Jadwal Sholat

Pondok Pesantren Al-Falak

Pondok Pesantren Al-Falak terletak di Pagentongan, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Pondok Pesantren Al-Falak telah berdiri sejak tahun 1901 (atau mungkin sebelum itu...?) oleh Almaghfurlah KH.Tb.Muhammad Falak Abbas atau biasa dikenal dengan Abah Falak.
Karena pada saat itu, berdirinya sebuah pesantren selalu seiring dengan seorang tokoh ulama yang mulai berdakwah di daerah tempatnya tinggal dan sekitarnya.

Sedangkan menurut sejarah keluarga, bahwa KH.Tb.Muhammad Falak Abbas hijrah dari Sabi, Pandeglang ke Pagentongan pada tahun 1878 dan kemudian bermukim di Pagentongan ini.
Selanjutnya Abah Falak menikah dengan seorang putri Pagentongan yang bernama Siti Fatmah dan mempunyai seorang putra tunggal yang bernama Tb.Muhammad Thohir Falak yang lebih dikenal dengan sebutan Bapak Aceng.

Pada hari Rabu tanggal 8 Jumadil 'Akhir 1392 / 19 Juli 1972, Abah Falak berpulang ke Rahmatullah di usianya yang ke 130 tahun. Beliau di makamkan di belakang rumahnya, dan kini menjadi Pemakaman Bani Falak.
Sedangkan Bapak Aceng menyusul berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1976.
Pada tahun 1996, menyusul lagi putranya Bapak Aceng yaitu Almaghfurlah KH.Tb.Atung Zaini Dahlan, yang sangat memperhatikan keberadaan pondok pesantren Al-Falak.

Sekarang Pondok Pesantren Al-Falak dikelola oleh buyutnya (generasi IV) Abah Falak yang tinggal di Pagentongan, dan Pondok Pesantren Al-Falak tetap konsisten untuk membantu pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang sangat islami, insya Allah.

ANTARA - Nasional