Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan

30 Maret 2016

Ingin Memalsukan al-Quran, Tetapi Malah Masuk Islam

Allah Subhanahu wa ta’ala berjanji didalam al-Quran, bahwa Dia akan menjaga al-Quran. firman-Nya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya.” [al-Quran surat Al-Hijr ayat 9]
Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan kisah menarik yang berhubungan dengan pemeliharaan al-Quran didalam kitab Tafsir nya (10/5,6)
Berikut kisah nya :
Khalifah Al-Ma’mun (adalah) seorang kepala negara yang memiliki sebuah majelis diskusi. Kemudian sejumlah orang yang berpakaian bagus, berwajah tampan, dan bertubuh wangi masuk kedalam majelis tersebut, ia ikut berbicara. Pembicaraan nya sangat bagus dan gaya bicaranya indah.
Ketika majelis tersebut selesai, Khalifah Al-Ma’mun memanggilnya dan bertanya kepadanya : “Apakah kamu orang Israil?”
Ia menjawab : “Ya”
Al-Ma’mun kemudian berkata kepadanya : “Masuklah kedalam agama Islam, agar aku bisa berbuat sesuatu kepadamu.!”
Ia lalu menjanjikan sesuatu kepadanya. Tetapi orang itu menjawab : “Agamaku adalah agama nenek moyangku.” Ia kemudian pergi
Setelah setahun kemudian, ia datang lagi dalam keadaan telah memeluk agama Islam. Ia mahir dan sangat pintar dalam masalah fikih, terlihat dari tema pembicaraan nya.
Ketika majelis telah selesai, Ma’mun memanggilnya dan berkata : “Bukankah kamu dulu pernah datang?”
Ia menjawab : “Ya, benar”
Khalifah Al-Ma’mun bertanya lagi : “Apa yang menyebabkan mu memeluk agama Islam?” Ia pun bercerita :
Katanya : “Ketika aku pergi dari hadapan yang mulia, aku bermaksud menguji kebenaran agama – agama ini. Padahal baginda saat itu memandangku orang baik. Aku kemudian mencari Taurat dan menulis tiga naskah salinan nya. Aku menambahkan dan mengurangi isinya. Aku kemudian menawarkan nya ke biara (rumah ibadah yahudi) dan mereka membeli ketiga naskah tersebut dariku.
Setelah itu aku mengambil Injil dan menulis tiga naskah salinan nya. Aku menambah dan mengurangi isinya. Lalu aku masuk kedalam gereja (rumah ibadah nasrani) dan mereka pun membeli ketiga naskah itu dariku.
Aku kemudian mengambil al-Quran dan membuat tiga naskah salinan nya. Aku menambah dan mengurangi isinya. Kemudian aku masukkan ke tempat penjual kertas, mereka (penjual kertas yang muslim itu) membolak balik lembaran nya. Ketika mereka mendapatkan ada tambahan dan kekurangan padanya, mereka membuangnya dan tidak mau membelinya. Dari situ aku tahu bahwa al-Qur’an ini terjaga. Dan itulah yang menyebabkan aku masuk Islam.”
[At-Tafsir An-Nabawi li Al-Quran, Salman Fahd Audah. Terjemahan nya Bagaimana Nabi dan Sahabat Menafsirkan al-Quran hal 19-20. cet Pustaka Azzam]
Demikianlah, salah satu kisah bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menjaga al-Quran melalui para penghafal al-Quran.

Sekitar kegiatan Syaikh Amin di Pondok Pesantren Al-Falak





Syaikh Amin Al Jailani tiba di Bogor 17 Maret 2016


05 Juni 2015

Asrama santri2 Al-Falak

Asrama Putra Ponpes Al-Falak

Asrama Putri Ponpes Al-Falak

Asrama Putra Madrosatul Qur'an Al-Falak

Asrama Putri Madrosatul Qur'an Al-Falak

HUJJAH ILMIAH SEPUTAR SYA’BAN

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah – Cirebon
Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang sangat perlu diperhatikan oleh kaum muslimin. Dan pada bulan ini juga ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh para Salafuna sholih untuk mempersiapkan dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Diantara amalan tersebut adalah :
1. Puasa
Puasa di bulan Sya’ban itu termasuk disunnahkan karena untuk melatih agar nanti ketika Ramadhan tiba sudah terbiasa dengan puasa. Selain itu bulan ini juga banyak dilalaikan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun kita tidak perlu mengkhususkan hari tertentu dari bulan Sya’ban untuk berpuasa karena tidak ada hadits yang benar secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa.Yang ada adalah riwayat yang menjelaskan anjuran puasa bulan Sya’ban secara umum.
2. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban
Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban hukumnya adalah sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah seperti puasa, sholat dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan para Ulama dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.
A. Keutamaan Bulan Sya’ban
Disebutkan dalam beberapa hadits Shohih tentang keutamaan Bulan Sya’ban yang sungguh sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad SAW.
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata : “Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
2. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Khuzaimah dan beliau katakan hadits ini adalah shohih
عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya : Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara Rojab dan Ramadhan, di bulan itu diangkat amal-amal kepada Alloh Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”.
3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :
عَنْ عَائِشَةَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم– يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Dari Sayyidah A’isyah ra beliau berkata : Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam tidak biasa berpuasa satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1970 dan Imam Muslim no. 1156)
Dalam lafazh Imam Muslim menyebutkan riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyAllohu ‘anha dengan sedikit berbeda.
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Nabi ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim no. 1156)
Dari Riwayat-riwayat tersebut di atas sungguh sangat jelas bahwa Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan Bulan Sya’ban dengan berpuasa.
B. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah banyak hadits dari Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih yaitu :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كِلَبٍ
Dari Sayyidah Aisyah ra beliau berkata : “Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam,. Kemudian aku keluar dan aku menemukan beliau di pemakaman Baqi’ Al-Ghorqod” maka beliau bersabda “Apakah engkau khawatir Alloh dan Rasulnya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku berkata : “Tidak wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian isteri-isterimu”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Alloh menyeru hambanya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuninya dengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba Bani Kilab (maksudnya pengampunan yang sangat banyak)”. (HR. Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih)
Domba Bani Kilab adalah gerombolan Domba terbanyak di Jazirah Arab di waktu itu.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi :
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَ صُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ ! أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ ! أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ ! أَلاَ كَذَا… أَلاَ كَذَا… حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ
Dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib bahwasanya Rasulullah bersabda, “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Alloh menyeru hambanya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman, ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, niscaya akan memberinya rizki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Alloh akan mengkabul hajat hambanya yang memohon pada waktu itu)…. Adakah yang demikian…. Sampai terbit fajar.”
3. Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Nu’aim dan dikatakan shohih oleh Imam Ibnu Hibban begitu juga Imam Thabrani berkata semua perowinya adalah orang yang dapat dipercaya (Tsiqah) :
عَنْ مُعَاذٍ بِنْ جَبَلٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Dari Sayyidina Mu’ad Bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata : “Alloh Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Alloh mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
4. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. :
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو منافق.
Dari Abu Musa Al-asy’ari r.a. , dari Rasulullah SAW, beliau berkata :
“ Sesungguhnya Allah SWT melihat kepada hambaNya di malam nishfu Sya’ban maka Allah SWT mengampuni semua makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang munafik “
C. KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG MALAM NISHFU SYA’BAN
1. Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali berkata dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif hal 199 – 201 :
وليلة النصف من شعبان كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان و مكحول ولقمان بن عامر وغيرهم يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة ،وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها ، … ((لطائف المعارف)) ص199-201
“Dan malan nishfu sya’ban adalah malam yang para tabi’in negara syam seperti kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman Bin Amir dan yang lainnya mereka mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam tersebut. Dan dari mereka lah umat islam mengambil faham keutamaannya dan keagungannya.”
Dan ibnu hajar melanjutkan :
واختلف علماء أهل الشام في صفة إحيائها على قولين: أحدهما: أنه يستحب إحياؤها جماعة في المسجد. كان خالد بن معدان ولقمان بن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون في المسجد ليلتهم تلك. ووافقهم إسحاق بن راهوية في ذلك وقال في قيامها في المساجد جماعة: ليس ذلك ببدعة.
Ulama Syam berbeda pendapat dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban :
Pendapat Pertama : Disunnahkan menghidupkannya secara berjamaah di masjid. Dan para ulama tersebut di atas mereka mengenakan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki serta membakar kayu harum dan menggunakan celak. Mereka melakukan sholat di masjid pada malam itu. Dan pendapat ini di setujui oleh Ishaq Ibnu Rohawih dan beliau berkata ”Ini bukanlah sebuah bid’ah”
وقال الشافعي: بلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال: ليلة الجمعة، والعيدين، وأول رجب، ونصف شعبان
Berkata Imam Syafi’i : Telah sampai berita kepada kami bahwa doa akan di Kabul di lima malam, malam jum’at, malam 2 hari raya, dan Awal Rajab Dan Nifsu Sya’ban.
2. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirotul Khufadz juz 4 hal 1328 disaat menjelakan biografinya Ibnu Asyakir beliau katakana :
أبو القاسم بن عساكر، صاحب التصانيف ….قال ولده المحدِّث بهاء الدين القاسم: كان أبي رحمه الله مواظباً على الجماعة والتلاوة، يَختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية – من جامع دمشق -،وكان كثير النوافل والأذكار، ويُحيي ليلة النصف – من شعبان – والعيد بالصلاة والذكر
“Ibnu Asyakir adalah seorang hafidz muhaddits Syam yang mempunyai banyak karangan, berkata putra Ibnu Asyakir, yaitu Baha Uddin Al-Qosim berkata “Ayahku (Ibnu Asyakir) selalu berjamaah serta membaca Al-Qur’an dan hatam setiap jum’at dan setiap hari di bulan ramadhan dan selalu ber i’tikaf di menara Asyarqiyah di Damaskus. Beliau selalu memperbanyak sholat sunnah dan dzikir serta menghidupkan malam Nishfu sya’ban dan malam ‘id dengan sholat dan dzikir .
3. Berkata Imam Ibnu Haj dalam kitabnya Al-Madkhol juz 1 hal 257 :
وبالجملة فهذه الليلة وإن لم تكن ليلة القدر فلها فضل عظيم وخير جسم، وكان السلف رضي الله عنهم يعظّمونها ويشمّرون لها قبل إتيانها، فما تأتيهم إلا وهم متأهّبون للقائها والقيام بحرمتها، على ما قد عُلم من احترامهم للشعائر… ))
Fasl malam nishfu sya’ban Kesimpulannya “Malam Nishfu sya’ban meskipun bukan malam lailatul qodar akan tetapi adalah malam yang mempunyai keutamaan yang sangat agung dan kebaikan yang sangat banyak. Ulama salaf mengagungkannya serta bersungguh-sungguh dalam menyambut kedatangannnya. Dan tidak datang malam Nishfu sya’ban kepada mereka kecuali mereka sudah siap menghidupkannya seperti yang telah diketahui dari mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang mengagungkan syiar Alloh
4. Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa nya, (Ibnu Taimiyah adalah tokoh kebanggaan orang-orang yang mengingkari kegiatan di Malam Nishfu Sya’ban). Ibnu Taimiyah berfatwa :
إذا صلى الإنسان ليلة النَّصف وحده أو في جماعة خاصة كما كان يفعل طوائف من المسلمين فهو : حسن. ((مجموع الفتاوى)) ج 23 ص131
“Apabila ada orang sholat di malam Nishfu Sya’ban dengan sendirian atau berjama’ah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin itu merupakan hal yang baik”.
وأما ليلة النصف فقد روي في فضلها أحاديث وآثار ،ونقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها ، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة فلا يُنْكَر مثل هذا ، أمَّا الصلاة جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات…
Beliau juga berkata dalam kitab yang sama hal 132 “Adapun keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits dan atsar (perkataan para sahabat dan tabi’in) dan sejumlah dari ulama salaf sesungguhnya mereka menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan sholat. Adapun sholatnya seseorang dengan sendirian pada malam Nishfu Sya’ban cara seperti itu telah dilakukan oleh ulama salaf dan dengan hujjah-hujjah (dalil-dalil) yang jelas maka hal ini tidak boleh di ingkari. Adapun sholat jamaah yang mereka lakukan di malam Nishfu Sya’ban ini berdasarkan atas qoidah umum bahwa dianjurkan berkumpul dalam melakukan ketaatan dan ibadah.
Ibnu Taymiyah menjelaskan dalam kitab Iqtidho Shirotol Mustaqim hal 266 :
ليلة النصف من شعبان. فقد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي: أنها ليلة مُفضَّلة. وأن من السلف من كان يخصّها بالصلاة فيها، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة. ومن العلماء من السلف، من أهل المدينة وغيرهم من الخلف: من أنكر فضلها، وطعن في الأحاديث الواردة فيها، كحديث:{ إن الله يغفر فيها لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب} وقال: لا فرق بينها وبين غيرها. لكن الذي عليه كثير من أهل العلم؛ أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم: على تفضيلها، وعليه يدل نص أحمد، لتعدد الأحاديث الواردة فيها، وما يصدق ذلك من الآثار السلفيَّة، وقد روي بعض فضائلها في المسانيد والسنن. وإن كان وضع فيها أشياء أُخر ))
Malam Nishfu sya’ban keutamaannya telah diriwayatkan dari banyak hadits-hadits dan atsar (perkataan sahabat dan tabi’in) yang kesimpulannya, “Malam Nishfu sya’ban adalah malam yang diutamakan”. Dan sebagian ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan melakukan ibadah sholat. Dan berpuasa di bulan Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shohih. Ada sebagian ulama salaf dari penduduk kota madinah dan juga sebagian ulama kholaf yang mengingkarinya dan berusaha mencederai hadits-hadits yang menunjukan keutamaannya seperti hadits : “Sesungguhnya Alloh mengampuni di malam Nishfu Sya’ban terhadap dosa dengan pengampunan yang lebih banyak dari bulu domba bani kilab”.
Setelah Mereka yang mencederai hadits tersebut akhirnya mereka berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara bulan sya’ban dan bulan lainnya. Akan tetapi kebanyakan ulama-ulama salaf telah mengutamakan (menghidupkan) malam Nishfu Sya’ban sebagaimana nash riwayat yang jelas dari Imam Ahmad karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaannya dan juga karena banyaknya perkataan-perkataan dari para ulama salaf yang tersebut dalam kitab musnad-musnad dan sunan-sunan. Meskipun memang ada beberapa riwayat yang lain yang dipalsukan.”
Kesimpulan :
Bagi siapapun yang ingin menyampaikan kebenaran harus jujur dan amanat karena ada ancaman hukuman berat dari Alloh SWT bagi pengkhianat-pengkhianat. Ada sebagian kaum muslimin yang mendustakan semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Bulan Sya’ban dan Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban. Sungguh dikhawatirkan mereka Akan dihukum oleh Alloh karena telah berdusta atas Nabi Muhammad SAW.
Dan memang ada beberapa riwayat palsu tentang keutamaan menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban. Akan tetapi bagi orang yang takut kepada Alloh SWT haruslah jujur, yang palsu harus dibuang akan tetapi jika ada riwayat yang telah dianggap benar (shohih) oleh Ahli Hadits tidak ada bagi kita kecuali menginshafi dan menerimanya. Bahkan jika seandainya tidak ada riwayat yang benar dan hanya ada yang dhoif hal tersebut oleh para ulama masih bisa digunakan untuk memacu amal baik dengan syarat-syaratnya. Apalagi sudah terbukti ada beberapa ahli hadits yang menghukumi keshohihanya.
Dan telah disebutkan perkataan sebagian dari ulama-ulama yang menyeru untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan dzikir sholat dan lain-lain. Maka jika ada orang di akhir zaman ini yang dengan lantang berkata bahwa ulama terdahulu tidak pernah menghimbau menghidupkan malam Nishfu Sya’ban lalu mereka katakan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah, maka orang tersebut adalah salah satu dari dua.
Pertama ; mereka adalah orang yang tidak mengetahui para ulama salaf. Jika demikian adanya orang-orang tersebut tidak perlu di ikuti karena sempitnya wawasan tentang ulama salaf. Bahkan Dia telah kurang ajar kepada ulama terdahulu.
Kedua ; mereka telah mengetahui apa yang telah disebutkan oleh para ulama salaf di atas hanya karena kecurangan mereka, mereka sembunyikan kebenaran ini karena menuruti hawa nafsu. Dan kita pun tidak perlu mengikuti orang yang mengikuti hawa nafsu.
Dan bagi kita adalah tidak ada pilihan lain kecuali “Mengikuti ulama-ulama yang menghimbau dan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban”.
Cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan oleh Rosulullah SAW seperti melakukan sholat sunnah hajat, sholat sunnah tasbih, sholat sunnah witir atau dengan bersholawat, berdzikir, beristighfar dan membaca Al-Qur’an atau membaca ilmu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Alloh SWT.
Wallohu a’lam Bishshowab

04 Juni 2015

Menyambut Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tinggal menunggu hitungan hari kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Kita akan melihat tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah:
Pertama: Bekal ilmu.
Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai, pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an.
Kedua: Perbanyak taubat.
Inilah yang dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.
Di antara do’a untuk meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى
“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719).
Catatan penting yang mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu memang disyariatkan  terhadap sesama apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.
Ketiga: Banyak memohon kemudahan dari Allah.
Selain dua hal di atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.
Do’a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ
“Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).
Semoga Allah menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a kemudahan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Wallahu waliyyut taufiq.

19 November 2013

YANG MUDA YANG BERDAKWAH


Jangan pernah ada kata cukup untuk ilmu.
Penat dan berat yang dialami adalah bagian dari kemuliaan menuntut ilmu

Tahun 1989 adalah tahun yang sangat berat dirasakan Habib Alwi Al-Habsy. Ayah, yang baru dikenalnya selama Sembilan tahun, meninggalkan dia dan empat orang saudara untuk selama-lamanya. Umminya, syarifah Qamar binti Abdul Qadir Al-Habsy, kemudian membesarkan Habib Alwi kecil dan saudara-saudaranya.Setahun setelah wafatnya sang abah, ia dan kakak sulung, Habib Abu Bakar, dengan seizing anggota keluarga, pergi ke Lawang, Malang, Jawa Timur, demi menuntut ilmu. Hingar binger Kebayoran Lama, Jakarta, tempat mereka dilahirkan, seolah tidak dihiraukan lagi. Padahal, anak seusianya lebih memilih tinggal bersama keluarga di kota yang nyaman dan lengkap dengan berbagai fasilitas.Di Lawang, Alwi kecil tentunya harus berjauhan dari orang-orang yang dicintainya, dan itu sangat menguji kesabarannya. Tahun demi tahun dilalui Alwi kecil hingga dikemudian hari ia memetik buah ketabahan dan kesabran itu, yakni cucuran rahmat Allah Ta’ala yang amat disyukurinya dalam kehidupannya sekarang.Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsy telah mengecap buah kesabarannya menghadapi pahit getirnya menimba ilmu di waktu kecil dulu. Senada dengan kisah hidupnya, dalam diwan-nya, imam Syafi’I rahimahullah berkata, “Man lam yadzuq murrat ta’allumi sa’atan, tajarra’a dzullal jahli thula hayathi (Siapa yang tidak merasakan sekejap pahitnya menuntut ilmu, akan meneguk hinanya keebodohan sepanjang hidupnya).”Kini ia bukan saja dikenal sebagai dai muda yang andal, tapi juga Pembina dan pengajar 36 majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jabodetabek. Majlis ta’lim yang diasuh di kediamannya pun telah menjadi magnet tersendiri bagi para muhibbin. Saban malam Kamis tidak kurang dari enam ratus kawula muda meluberi majlisnya. Sedangkan Ahad subuh, lebih dari empat ratus asatidz menghadiri paengajian yang diasuhnya.Bila tiba masa peringatan Maulid, Majlis Maulid yang diselenggarakkannya dihadiri puluhan ribu orang yang memenuhi jalan-jalan perkampungan kecil di kawasan Srengseng Kembangan, Jakarta Barat.Ghirah Ilmu dan Cinta GuruPengembaraan dua kakak-beradik itu terhenti di Pesantren Darun Nasyi’in di bawah asuhan Habib Muhammad bin Husein Ba’bud, Lawang Malang. Ustadz Muhammad, demikian ia disapa oleh para santri, sangat menyayangi Alwi, terlebih setelah diketahui bahwa Alwi telah ditinggalkanayah. Setiap malam, Alwi kecil menemani sang murrabi (pendidik) mengasuh pengajian hingga waktunya melepas lelah di pembaringan. Habib Muhammad, Allah yarhamuh, mendidik dan mengasuhnya seperti anaknya sendiri, padahal Habib Muhammad saat itu sudah sepuh.Sayangnya, kehangatan yang diperoleh Alwi kecil terasa hanya sebentar. Pada tahun 1993, Habib Muhammad menemui Sang Khaliq. Putra Hbaib Muhammad, Habib ali bin Muhammad Ba’bud, menggantikan sang ayah mengasuh pesantren yang memiliki ribuan santri itu. Kasih sayang yang ditunjukkan keluarga Ba’bud tidak pernah luntur. Sosok Habib Ali, yang dikenal sebagai pendidik yang brilian, memberi kesan tersendiri baginya dan turut membentuk karakternya.Namun, sekalipun sudah dianggapseperti anak, Alwi kecil tetap harus menjalani tempaan belajar sebagai santri Darun Nasyi’in. kasih sayang, ketegasan, dan kemandirian hidup membentuk karakternya hingga kini.Delapan tahun Habib Alwi menghabiskan masa kecil dan remajanya di Pesantren Lawang. Selepas itu, ia kembali ke Jakarta. Ia sempat bekerja di Jakarta dan Semarang untuk memenuhi kebutuhan hidup serta membantu membiayai adik-adiknya, meringankan beban ibunya. Tapi ghirahnya pada ilmu tetap membara. Timbul keinginan yang besar untuk melanjutkan mengaji kepada Habib Zein bin Sumaith di kota Nabi, Madinah. Namun keinginan itu belum dapat ia wujudkan, terutama karena kondisi keuangan.Pada tahun 1999, sembari mengaji kepada Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan di Al-Fakhriyyah, Ciledug, Tangerang, Banten, ia mencari informasi dan jalan untuk belajar ke Darul Musthafa, Hadramaut. Setahun kemudian, berkat bantuan saudara ayahnya yang dikenal sebagai pengusaha property yang sukses dan dermawan, Habib Ismeth bin Abdullah Al-Habsyi, ia berangkat menuju Hadramaut, Yaman.Habib Alwi adalah santri angkatan kedua asal Indonesia yang mengenyam pendidikan di Pesantren yang diasuh Guru Mulia Al-Hafizh Al-Musnid Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz.Mulanya, lamanya waktu belajar di Darul Musthafa adalah dua tahun, ketika menginjak tahun ketiga, Habib Alwi menulis surat permohonan kepada Habib Umar agar diberi kesempatan setahun lagi untuk mengenyam pendidikan dikelas takhashush yang disebut daurah. Permintaan itu dikabulkan Habib Umar bin Hafidz.Selama tiga tahun menimba ilmu di Hadramaut, ia juga berkesempatan mengaji kepada Habib Hasan Asy-Syathiri di Rubath Tarim, yang biasanya diadakan pada masa-masa liburan. Pada kesempatan di musim haji, ia, bersama beberapa santri dan Tuan Guru Nulia, berkesempatan mengunjungi kediaman Abuya Imamul Muhadditsin Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani di Rushaifah, Makkah. Baginya, kesempatan-kesempatan itu member kenangan yang tiada ternilai dalam kehidupannyahingga kini.Getir Manisnya BerdakwahPada tahun 2003, Habib Alwi Al-Habsyi menginjakkan kaki kembali di tanah air. Walau ia jebolan Darul Musthafa, bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan akses dalam mengajar dan berdakwah. Ia hijarh ke Depok, Bogor, Jawa Barat, untuk berdakwah. Tak jarang ia mengalami pahit getirnya berdakwah.Pernah ketika ia akan memberikan ta’lim, masjid yang akan didatanginya dikunci pagarnya. Bahkan ia pernah diusir saat sedang mengajar. Namun ujian demi ujian yang dihadapinya tidak membuat giyah dan melunturkan semangat berdakwah. Ia selalu teringat pesan sang guru, Habib Umar Bin Hafidz, tentang penggemblengan jiwa. Habib Umar mengajarkan tiga hal yang tidak boleh terlepas dari seorang alumnus Darul Musthafa; tahqiqul ‘ilm (mewujudkan ilmu dengan mengamalkannya), suluk (keluhuran pekerti dengan menjalani thariqah Ba’alawi), dan iblaghul haq (menyampaikan kebenaran kepada siapa saja).Peran sang pendamping hidup, Syarifah Nur Fitriyah Al-Habsyi, pun sangat besar. Laksana Syarifah Khadijah binti Khuwailid, yang selalu menyokong dakwah sang suami, makhluk yang mulia, Rasulullah SAW, Syarifah Nur pun senantiasa memberikan perhatian pada tugas mulia yang diemban Habib Alwi.Sejak empat tahun terakhir ini, Habib Alwi beserta istri dan dua buah hatinya yang masih kecil dan sedang lucu-lucunya, Habib Muhammad Nuh Al-Habsyi dan Habib Ali Al-Habsyi, berhijrah kesebuah perkampungan Betawi yang asri, JAlan Mawar, srengseng Kembangan, Jakarta barat. Di kampung ini, penerimaan masyarakat terhadap dirinya dan keluarga sungguh luar biasa. Majelis yang dibinanya kian hari kian banyak dihadiri jama’ah sekitar kediamannya. Bahkan kini jama’ahnya berdatangan dari berbagai penjuru di pinggiran Jakarta Barat dan Tangerang. Rumahnya pun tiap hari disambangi jama’ah, baik yang ingin berkonsultasi, mengaji, maupun bersilaturahim.Setiap malam Kamis, majelisnya dihadiri ratusan kaum muda. Ia mengisi pengajian dengan pembacaan Ratib Al-Haddad dan kajian kitab Riyadhush Shalihin. Sedangkan pada setiap Ahad pagi ba’da subuh, ia mengawali ta’lim dengan pembacaan Wirdul Lathif, dilanjutkan dengan mengajar kitabRisalatul Mu’awanah dan Risalatul Mudzakarah, yang diikuti lebih dari empat ratus asatidz.Selama empat tahun Majelis Ta’lim Raudhatul Habib SAW, yang diasuhnya. Telah dikhatamkan dan diijazahkan empat buah kitab, diantaranya Kitab Adab suluk al-Murid dan Kitab Bidayatul Hidayah. Kini majelisnya tengah melebarkan sayap dengan membangun sebuah bangunan permanen seluas 150 meter persegi di Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di lahan yang diwakafkan seorang dermawan itu, rencanya Majelis Ta’lim raudhatul Habib SAW akan memusatkan semua kegiatan dakwahnya, termasuk pembinaan 36 majelis yang diasuh Habib Alwi di seantero Jabodetabek.Mudawamah MengajiKeluarganya adalah orang-orang yang cukup disegani di kalangan Alawiyyin. Buyutnya, Habib Abu Bakar bin Muhammad Al-Habsyi, adalah salah satu tokoh pendiri Jamiat Kheir dan Rabithah Alawiyah.Sekalipun ia memiliki datuk-datuk yang dihormati karena ilmu dan kedermawanan mereka, tidak serta merta itu membuat Habib Alwi bersikap sombong. Begitu pun dengan dirinya, yang telah mengajar dibanyak majelisdan membina majelis yang cukup disegani, tidak membuat Habib Alwi besar kepala dengan ilmu dan ketenaran. Ia sangat memegang erat tuntunan Thariqah Ba’alawi, yang mengajarkan qana’ah (kesederhanaan) dan khumul (tidak mencari popularitas).Hingga kini, bersama lima rekan dekatnya yang sama-sama dikenalsebagai dai dan guru, secara mudawamah (berkesinambungan) mengaji kepada Habib Abdullah al-Kaf Cipulir dan Habib Umar bin Abdullah Alatas. Dengan Habib Abdullah, ia mempelajari thariqah Alawiyah; sedangkan dengan Habib Umar, ia mengaji Sembilan kitab yang berlangsung dari pagi hingga menjelang ashar, sepekan sekali.Mengaji dan mengajar ibarat air yang dituang ke dalam gelas. Bilamana gelas penuh dengan air, perlu dituang ke gelas lainnya. Ilmu pun bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan instan. Ilmu juga harus melalui jalur yang jelas dan tasalsul (bersambung). Itulah yang diajarkan agama, “Al-Isnad minad din laulal isnad laqala ma qala (mata rantai ilmu itu bagian dari ajaran agama. Jika tanpa mata rantai seseorang semaunya mengatakan apa yang dapat dikatakannya)”.Habib Abdullah Al-Kaf-lah yang banyak menyokong secara moril. Majelis Raudhatul Habib SAW dinamai oleh Habib Abdullah Al-Kaf. Dipilihnya rumah yang asri yang kini didiaminya di Srengseng juga atas petunjuk gurunya tersebut.Tentang Habib Umar Alatas, ia menyatakan kekagumannya atas semangat sang guru yang tak pernah padam sekalipun telah sangat sepuh. Ia tidak merasa penat, sekalipun dengan telaten membaca Sembilan kitab dan menjelaskannya kepada murid-muridnya sejak pukul Sembilan pagi hingga matahari akan tenggelam!Cinta Ibu dan Kasih GuruDalam wawancaranya dengan alKisah di penghujung Ramadhan 1430 H, ketika mengutarakan kecintaan orang-orang yang dicintainya, buliran air mata membasahi wajah tampannya. Habib Alwi teringat akan guru-gurunya, di antaranya Habib Muhammad Ba’bud lawang, Habib Umar Bin Hafidz, dan Ibu, yang melahirkan dan membesarkannya. Tentang sang ibu, ia teringat kepada Habib Abu Bakar Assegaf Gresik shahibul karamah (yang memiliki karamah).Alkisah, kapanpun ibunya dating, Habib Abu Bakar senantiasa bangun, berdiri, dan menghampiri sang ibu, lalu ia kecup kedua tangan ibunya, sekalipun di hadapannya ada ribuan manusia yang tengah menyimak ta’limnya. Ia baru melanjutkan pengajiannya kembali ketika ibunya telah selesai dengan keperluannya dengan dirinya. “Itulah sesungguhnya salah satu ajaran utama di kalangan ahlul bayt dzurriyyah rasulullah SAW, sikap terhadap guru dan orang tua, yang membesarkan kita”, kata Habib Alwi.Habib alwi menyitir ucapan Imam Ja’far Ash-Shidiq, salah satu dzurriyyah Rasulullah SAW. Ada empat “perintah” bagi dzurriyyyah Nabi SAW yang“tidak boleh ditentang”. Pertama, qiyamuhu min majlisihi li abihi (bangun dari majelis ketika orang tuanya dating), sebagaimana yang dilakukan Habib Abu Bakar Gresik tadi. Kedua, khidmatuhu li dhaifih (melayani tamu yang bertandang ke kediamannya). Ketiga, qiyamuhu ‘ala dabbatihi (mandiri tidak tergantung kepada orang lain). Yang keempat, khidmatuhu liman yata’allamu minhu (melayani orang yang ingin belajar kepadanya).Usia boleh muda, tetapi ilmu dan akhlaqlah yang membuat seseorang dituakan di tengah masyarakat dan umat. Habib Alwi termasuk dalam criteria tersebut. Ia dituakan dan menjadi tokoh ulama muda di tengah-tengah lingkungan tempat tinggalnya. Dalam sebuah syair dikatakan. “Al-‘Alimu kabirun walaw kana shaghiran wal jahilu shaghirun walaw kana syaikhan (Orang alim itu besar sekalipu ia masih muda, sebaliknya orang jahil itu kecil sekalipun ia berusia tua)”.Hal lain, ditambahkannya, tentang keberadaan majelis-majelis ta’lim dan dzikir. Majelis-majelis ini sangat dibutuhkan masyarakat, ketika banyak orang terperosok dalam dunia materialism, sekularisme, dan isme-isme yang jauh dari ruh Islam, yang diajarkan Nabi SAW dan para salafush shalih.


dikutip dari Majalah alKisah 21/19 Okt-1 Nov 2009

26 Juli 2011

Google+ untuk Pendidikan

Google+ yang baru diluncurkan oleh Google adalah salah satu alternatif menyegarkan dalam dunia social network yang dirajai Facebook. Dengan integrasi yang sangat kuat dengan produk Google lain seperti Gmail, YouTube, Docs, dll, maka Google+ akan sangat mengancam keberadaan Facebook di kemudian hari. Google+ juga mendapat banyak pujian dalam hal pengelolaan privacy penggunanya. Google+ juga akan membawa manfaat luar biasa di kemudian hari dengan potensi integrasinya dengan mobile platform terutama Android. Ada banyak hal positif yang memang masih akan kita tunggu perkembangannya. Namun dalam kesempatan ini, sebagai salah satu pengguna paling awal dari layanan ini, saya akan coba mengulas Google+ dari sisi potensi pemanfaatannya untuk pendidikan. Tulisan ini akan saya buat berseri seiring perkembangan yang terjadi.
Salah satu fitur yang menyita perhatian saya adalah Circles. Ide pengelompokan teman dalam aplikasi social network bukanlah hal baru. Facebook telah menggunakannya sejak lama dan secara sistem sangat baik. Namun Google+ membawanya ke level lebih tinggi dengan visualisasi yang sangat menarik dan memudahkan. Buatlah circle baru misalnya “Kelas 2A” lalu masukkan semua siswa atau teman anda kedalam lingkaran ini, hanya dengan drag and drop, maka anda akan memiliki “lingkaran pertemanan” atau “ruang belajar virtual” yang eksklusif hanya dengan orang-orang yang ada didalamnya.
Jika kita bawa ke dunia pendidikan, misalnya anda seorang guru, maka circle ini akan menjadi lahan kerja anda secara virtual. Tulislah status anda, tujukan hanya pada circle ini, maka hanya seluruh anggota lingkaran ini yang bisa membaca dan membalasnya. Ini perbedaan cukup signifikan dari Twitter dan lainnya yang hanya memungkinkan membuat status yang bersifat publik dan dibaca oleh seluruh teman yang lain. Google+ membuat proses penulisan status dan pengaturan siapa saya yang bisa membacanya menjadi sangat mudah dan menjadi kekuatannya saat ini. Perlu dicatat bahwa Facebook juga memiliki fitur ini dan juga cukup mudah dipakai, namun banyak orang mengabaikannya.
Dengan fitur Circles dan kemudahan membuat status yang bisa langsung ditujukan ke lingkaran tertentu saja ini membuat Google+ menjadi salah satu aplikasi online classroom yang mudah dipakai. Tanpa perlu membuat Group terlebih dahulu seperti di Facebook, kita akan dengan mudah menciptakan dan mengelola ruang kelas kita secara efektif dan efisien. Hal ini tidak hanya berlaku untuk status berupa teks atau tulisan, namun juga berlaku untuk sharing foto, video, link, lokasi kita, dll, jadi tidak hanya berupa status. Ini semua hanya dilakukan dalam 1 halaman yaitu yang disebut Stream. Di Facebook disebut News Feed atau di Twitter disebut TimeLine.
Perbaikan mungkin harus dilakukan oleh Google+ agar penelusuran status dan diskusi yang khusus dilakukan dalam satu circle tertentu bisa dengan mudah dikelompokkan, dilihat dan dicari lagi. Lucu juga bila ada pengumuman PR oleh guru kemudian tertimpa oleh percakapan lain sehingga kemudian sulit dicari kembali. Kesulitan pencarian ini adalah kelemahan klasik Facebook yang sangat mengganggu, termasuk di Group. Sangat sulit mencari status ataupun percakapan yang telah berlangsung lama dan telah tertimpa oleh status atau percakapan baru. Kita harus scrolling kebawah halaman tanpa ada bantuan alat pencari sama sekali. Saya yakin ini akan segera diperbaiki oleh Google+ karena ini adalah salah satu kekuatan Google di hampir semua layanan mereka yang lain. Seperti kita ketahui pencarian sangat mudah dilakukan di Gmail, YouTube, Blogger, dll.
Update: Pengelompokan tayangan status atau Stream dalam Google+ ternyata disediakan di sebelah kiri layar dimana Stream dibagi berdasar Circles yang kita miliki. Jika kita memiliki Stream “Kelas 2A” misalnya, maka aktivitas seluruh anggota lingkaran tersebut terkelompokkan secara otomatis. Namun stream demikian bisa crowded dengan berbagai status yang tidak berhubungan dengan tujuan pembelajaran kita.
Jadi, bagi para insan pendidikan, selamat memakai Google+ untuk pembuatan virtual online classroom anda, semudah membuat status di Facebook.

18 Juli 2011

Rahasia Nama Nabi Muhammad

Rahasia dibalik nama Muhammad, dimana banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama yang sederhana itu. entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekedar kebetulan saja, bahwa ada fakta menarik di abjad/huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad, jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim ha mim dal, maka akan menjadi sebuah sekesta seorang manusia. sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk / ciptaan yang pernah diciptakan oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal mereka, sementara mahluk lain hanyalah hayawan dan planet-planet yang penuh rahasia.

Manusia Sempurna:

2. kata Ahmad, jika kita cermati satu-persatu hurufnya mak huruf-huruf itu akan mennggambarkan sosok orang yang sedang melakukan sholat, tahukah kita bahwa sholat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya.

Ahmad Terpisah:

3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia yang sedang sujud dalam shalat. dalam ritual sholat Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, karena pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi bukti kepasrahan total kepada sang pencipta. hmmm betapa rahasia Tuhan sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahasia-rahaisa lain dibalik sosok, nama dan semua yang berkaitan dengan sang kekasih sejati 'Habibullah: Muhammad'. Bgeitulah hasil temuan situs woamu.mangaku.net


Sumber; 

28 Mei 2011

MATAHARI DI ATAS MEKKAH – SAATNYA MELURUSKAN ARAH KIBLAT

Matahari akan berada di atas Mekkah, Arab Saudi, Sabtu 28 Mei 2011 pukul 12.18 waktu setempat atau pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat. Hal itu berarti matahari berada tepat di atas Ka’bah, kiblat umat Islam. Saat itu, bayangan di seluruh dunia yang masih bisa melihat matahari mengarah ke Ka’bah.
Bayangan ke arah Ka’bah yang dapat dijadikan patokan arah kiblat itu dapat diperoleh dari benda yang berdiri tegak lurus di tempat datar. Cara itu dapat digunakan di sejumlah wilayah yang tak bisa melihat Ka’bah secara langsung.
Bayangan tiang atau tonggak saat matahari tepat berada di atas Ka’bah di Mekkah menunjukkan arah kiblat yang sesungguhnya. Inilah cara yang paling mudah dan sederhana tetapi dengan akurasi tinggi dalam menentukan arah kiblat.
Gambar Ilustrasi Matahari di atas Ka’bah dan Tonggak Penentu Arah Kiblat saat Matahari di atas Ka’bah
Pada tahun 2011 ini, matahari di atas Mekkah terjadi dua kali dalam setahun :
1. Tanggal 27 Mei atau 28 Mei, pukul 16.18 WIB
2. Tanggal 15 Juli atau 16 Juli, pukul 16.27 WIB
Jadwal perkiraan matahari tepat berada di atas Ka’bah tahun 2011 – 2015 dapat diunduh disini.
Semoga setelah membaca ini, ibadah shalat kita semakin baik. Semoga bermanfaat.

10 Mei 2011

Selamat menempuh UN untuk siswa/i MI Al_Falak

Selamat menempuh UN untuk para siswa/i MI Al-Falak, semoga diberikan ketenangan, kemudahan dan kelancaran dalam menjalankannya oleh Allah SWT. Amin.

05 April 2011

KEBIJAKAN INPASING BELUM OPTIMAL ; Perhatian Terhadap Guru Swasta Kurang


SEMARANG (KR) - Perhatian pemerintah terhadap guru swasta non PNS dinilai masih kurang. Hal tersebut terlihat pada penerapan kebijakan Inpassing di daerah-daerah masih belum optimal dan cenderung lambat. Ditambah, para guru swasta banyak yang tak mengerti perihal inpassing lantaran kurangnya sosialisasi.
Inpassing merupakan penetapan jabatan fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil dan inpassing bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun juga menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai ketentuan yang berlaku sekaligus demi tertib administrasi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil.
Hal ini diakui anggota DPRD Jawa Tengah, Muh Zen Adv. "Banyak guru yang harus bekerja dan mengurus sendiri persyaratan inpassing hingga ke Jakarta, seperti tidak ada lembaga yang bertanggung jawab," kata Muh Zen dalam seminar "Membedah Kebijakan Inpassing Bagi Guru Non PNS", di Semarang, Minggu (27/3) .
Ia mencontohkan, banyak ditemukan kasus kantor Kementerian Agama di tingkat kabupaten yang kurang memberikan sosialisasi serta tidak memproses berbagai pengajuan oleh para guru tersebut. Oleh karenanya diharapkan, negara membuat aturan yang dapat dilaksanakan secara serentak dan bersama-sama.
"Jangan sampai guru mengurus kebijakan ini seorang diri, sampai harus membayar petugas Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama agar mau mengurusnya," kata Muh Zein dalam seminar yang digelar Kelompok Diskusi Wartawan Jawa Tengah tersebut.
Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, Rasdi Ekosiswoyo MSc menambahkan, pemerintah harus berkomitmen untuk melaksanakan kebijakan penetapan jabatan fungsional guru bukan PNS. Dalam penilaiannya, pemerintah kalau ada niat sering tidak total, misalnya dalam kasus pengangkatan guru bantu. Karenanya ia minta ketegasan pemerintah provinsi dan kabupaten / kota dalam melaksanakan kewajibannya.
Kepala Seksi Pengembangan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dasar Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sutarmanto mengatakan, pemerintah provinsi siap memfasilitasi para guru dalam pengurusan inpassing. Meskipun kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan masalah pendidikan sangat terbatas. (Cha/Isi)-m

Jadwal Sholat

Pondok Pesantren Al-Falak

Pondok Pesantren Al-Falak terletak di Pagentongan, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Pondok Pesantren Al-Falak telah berdiri sejak tahun 1901 (atau mungkin sebelum itu...?) oleh Almaghfurlah KH.Tb.Muhammad Falak Abbas atau biasa dikenal dengan Abah Falak.
Karena pada saat itu, berdirinya sebuah pesantren selalu seiring dengan seorang tokoh ulama yang mulai berdakwah di daerah tempatnya tinggal dan sekitarnya.

Sedangkan menurut sejarah keluarga, bahwa KH.Tb.Muhammad Falak Abbas hijrah dari Sabi, Pandeglang ke Pagentongan pada tahun 1878 dan kemudian bermukim di Pagentongan ini.
Selanjutnya Abah Falak menikah dengan seorang putri Pagentongan yang bernama Siti Fatmah dan mempunyai seorang putra tunggal yang bernama Tb.Muhammad Thohir Falak yang lebih dikenal dengan sebutan Bapak Aceng.

Pada hari Rabu tanggal 8 Jumadil 'Akhir 1392 / 19 Juli 1972, Abah Falak berpulang ke Rahmatullah di usianya yang ke 130 tahun. Beliau di makamkan di belakang rumahnya, dan kini menjadi Pemakaman Bani Falak.
Sedangkan Bapak Aceng menyusul berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1976.
Pada tahun 1996, menyusul lagi putranya Bapak Aceng yaitu Almaghfurlah KH.Tb.Atung Zaini Dahlan, yang sangat memperhatikan keberadaan pondok pesantren Al-Falak.

Sekarang Pondok Pesantren Al-Falak dikelola oleh buyutnya (generasi IV) Abah Falak yang tinggal di Pagentongan, dan Pondok Pesantren Al-Falak tetap konsisten untuk membantu pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang sangat islami, insya Allah.

ANTARA - Nasional